Kualitas daging dipengaruhi oleh
beberapa
faktor, baik pada waktu hewan masih hidup maupun setelah
dipotong. Pada waktu hewan hidup, faktor penentu kualitas dagingnya
adalah cara pemeliharaan, meliputi pemberian pakan, tata laksana pemeliharaan, dan perawatan
kesehatan. Kualitas
daging juga dipengaruhi oleh perdarahan pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi sesudah hewan dipotong.
Kriteria yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan
kualitas daging yang layak
konsumsi adalah sebagai berikut :
(1). Keempukan atau Kelunakan
Keempukan
daging ditentukan oleh kandungan
jaringan ikat. Semakin tua usia hewan,
susunan jaringan ikat semakin
banyak,
sehingga daging yang dihasilkan semakin liat. Jika
ditekan dengan jari, daging yang sehat akan memiliki konsistensi kenyal
(padat).
(2). Kandungan lemak atau marbling.
Marbling adalah lemak yang terdapat diantara otot (intramuscular).
Lemak berfungsi sebagai pembungkus otot dan mempertahankan
keutuhan daging pada waktu dipanaskan. Marbling
berpengaruhterhadap citarasa daging.
(3). Warna
Warna daging bervariasi,
tergantung
dari
jenis secara genetik dan usia. Misalnya daging sapi
potong lebih gelap daripada daging sapi perah. Daging sapi muda lebih pucat daripada
sapi dewasa.
(4). Rasa dan Aroma
Citarasa dan aroma dipengaruhi oleh jenis pakan. Daging yangberkualitas
baik mempunyai rasa yang relatif gurih dan aroma yang sedap.
(5). Kelembaban
Secara normal daging mempunyai permukaan yang relatif kering
sehingga
dapat menahan pertumbuhan mikroorganisme
dari luar.Dengan demikian mempengaruhi daya simpan daging tersebut.
Beberapa kriteria daging yang tidak baik adalah sebagai
berikut:
(1). Bau dan rasa tidak normalBau
yang
tidak normal biasanya akan segera tercium sesudah
hewan dipotong.
Hal tersebut
dapat
disebabkan oleh adanya kelainan-kelaianan sebagai
berikut:
a. Hewan sakit
Hewan yang sakit, terutama yang menderita radang yang bersifat akut pada organ
dalam, akan menghasilkan daging yang berbau seperti mentega tengik.
b. Hewan dalam pengobatan
Hewan dalam
masa pengobatan
terutama dengan pemberianantibiotika,
akan menghasilkan daging yang berbau obat-obatan.
(2). Warna daging tidak normal
Warna daging yang tidak normal tidak selalu
membahayakan kesehatan konsumen, namun
akan mengurangi selera konsumen.
(3). Konsistensi daging tidak normal
Daging yang tidak sehat mempunyai kekenyalan rendah (jika ditekan dengan jari akan terasa lunak), apalagi diikuti dengan perubahan warna yang tidak normal, maka daging tersebut
tidak layak dikonsumsi
(4). Daging busuk
Daging yang busuk dapat mengganggu kesehatan konsumen, karena dapat menyebabkan
gangguan saluran pencernaan. Pembusukan dapat terjadi karena penanganan yang kurang baik pada waktu
pendinginan, sehingga aktivitas bakteri
pembusuk meningkat, atau karena
dibiarkan di tempat terbuka dalam waktu relatif lama pada temperatur kamar,sehingga terjadi proses fermentasi oleh enzim-enzim membentuk asam sulfida dan amonia.
Adapun ciri-ciri daging yang busuk akibat aktivitas bakteri antara lain sebagai berikut:
a. Daging kelihatan kusam dan berlendir. Pada umumnya disebabkan
oleh
bakteri dari
genus Pseudomonas,
Achromobacter, Streptococcus, Leuconostoc, Bacillus dan
Micrococcus.
b. Daging berwarna kehijau-hijauan (seperti isi usus). Pada umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus
Lactobacillus dan Leuconostoc.
c. Daging menjadi tengik akibat penguraian lemak. Pada umumnyadisebabkan oleh bakteri dari
genus Pseudomonas dan Achromobacter. d. Daging memberikan sinar kehijau-hijauan. Pada umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus Photobacterium dan Pseudomonas.
e. Daging berwarna kebiru-biruan. Pada umumnya disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sincinea.



0 komentar:
Posting Komentar